Sebab aku menulisnya dibawah pohon randu
Kapuk putih jatuh ditengah kita bercumbu
Saat itu
Sebuah pertemuan aku dan kamu
Memalingkan pandangan bulir-bulir pelangi bersalju
Mendekap tangan, membuang serpihan sakit hati dahulu
Tempat ini begitu agung
Tempat segala air mata ku bendung.
Atas rindu yang merundung
Larungkan kisah yang sempat kita bangun
Secangkir Tehmu mendingin
Tatapanmu masih dalam lengang
Ini bukan jalanan malam
Bukan pula kuburan
Ini kehidupan
Dan seharusnya engkau sadar
Engkau terpaku di kursi
Memang tak hilang
Setidaknya kursi itu tidak berontak
Kau duduki berjam-jam
Sesunyi apapun kau pikirkan
Takdirmu begitu indah dipandang
Peneduh jiwa lelaki kesepian
Pelukis asmara kegilaan setan
Sematkan ragamu pada Illahi
Tulus doaku selalu mengiringi
Biar aku tak disisimu saat ini
Sungguh aku masih mencintai
Baca Selengkapnya...
Move ON
Posted by Unknown Label: Puisi, Puisi cinta, puisi gembira, puisi gundah, Puisi harapan, puisi penyesalanKau tinggal abu pelarungan asmara
Kecupan yang ku rindukan meresap tak berbahasa
Pada lembaran itu tertulis kisah kita
Tak sempatlah kubuat sebait syair
Hanya bibir penikmat air mata mengalir
Getar hati memanggil bersama
Pada senja yang berhujan
Tuhan tak mengizinkannya
Sore ini
Secangkir kopi peneman sunyi
Sajakku seperti gemuruh awan mendung
Tak usahlah pikirkan aku
Semua ini menyirnah ditelan waktu
Esok waktu berujung temu
Cahaya rembulan nan syahdu
Menerangi percintaan para pemadu
Dan disitu pasti ada aku
Pasti ada aku, pasti ada aku
Baca Selengkapnya...

