Sajak tampak basah
Gerimis mengundang resah
Lorong-lorong jarak
Sela-sela kolom tangga lantai 2
Rumah sakit dr. Soetomo
Surat Yasin terdengar tampak indah
Lalu siapa yang lebih tabah
Sedangkan malaikat tinggal menunggu perintah
Mengeja ayat sepatah
Pada jeda disetiap tarikan napas
Mengenang kisah
Di ujung doa, pada hembusan takdir berikutnya
Baca Selengkapnya...
Senyuman di balik kerudungmu
Bersembunyi kerap menatapku
Memendam rindu yang tertutupi
Berbisik pelan tak kuasa menatap lebih lama lagi
Bukanlah aku emas permata
Mengilaiku sampai malu bertanya
Aku masih yang dulu
Bersembunyi dalam waktu
Di sela-sela aku menyimpan rindu
Menuangkan lewat lagu
Cerita kita begitu haru
Disaat takdir memaksakan kita tak lagi bersatu
Berjalan di atas jalan berliku
Baca Selengkapnya...
Bukanlah taipan dari negeri seberang.
Bukan pula konglomerat jalanan.
Bila waktu akan datang.
Kursi empuk jadi santapan.
Setelah kita berjuang.
Jangan pikirkan janji-janji gombal.
Diriku hanyalah perangkai kata kesepian.
Jemari menulis dari fajar hingga petang.
Semuanya gombal.
Harapan itu pasti
Berjuang pun tiada henti
Ikrar kata ini begitu manis sekali
Semanis gula jawa yang Ibu masak tiap hari
Jangan pernah membaca isi surgawi
Apalagi pemanis hatiku yang pilu ini
Baca Selengkapnya...

